Senin, 03 Januari 2011

Sejarah Penulisan Kitab Perjanjian Lama

Tulisan ini Diambil dari Buku berjudul “Kritik Bibel” yang berisi “Analisis Historis Filosof Yahudi Terhadap Perjanjian Lama” Oleh Baruch Spinoza (1632-1677).
Diterjemahkan dari Judul: “Risalah fil lahut was Siyasah”
Copyright Penerbit:  Daartt Wihdan , Cairo.
Alih Bahasa: Salim Rusydi Cahyono, Lc.


Sejarah Penulisan Kitab Suci

“Pembuktian bahwa Pentateukh, kitab Yosua, Hakim-Hakim, Rut, Samuel dan Raja-Raja tidak benar, setelah itu juga akan dibahas apakah kitab-kitab itu ditulis oleh banyak orang atau satu orang.”


Dalam fasal lalu, kita telah membahas dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang melandasi pengetahuan tentang kitab suci. Di sana juga telah kita jelaskan bahwa dasar dan prinsip itu tidak lain kecuali pengetahuan historis kritis tentang kitab suci itu. Tapi sayang, orang ­orang terdahulu meremehkan pengetahuan ini meskipun sangat penting. Dan meskipun mereka pernah menulis kemudian mentranmisikannya, tetapi telah hilang ditelan waktu.

Akibatnya hilang juga dari kita sebagian besar dari dasar-dasar dan prinsip-prinsip itu. Sebetulnya hal ini masih bisa ditolerir kalau saja para penerus tetap moderat dan secara jujur mentransmisikan kepada generasi akhir yang sedikit itu tanpa mencampurinya dengan pernyataan yang dia buat-buat. Pengkhianatan mereka inilah yang sebetulnya membuat data-data historis tentang kitab suci itu kurang bahkan bohong.

Atau dalam kata lain, prinsip­prinsip yang melandasi pengetahuan tentang kitab suci itu bukan saja tidak cukup secara kuantitas sehingga tidak bisa dipakai landasan bagi sesuatu yang sempurna, tetapi juga cacat secara kualitas. Maka dari itu, kami bertekad untuk meluruskannya sekaligus membersihkan teologi dari penilaian masa lalu yang populer. Tetapi kami takut jika usaha kami ini datang terlambat. Kondisi saat ini sudah sampai kepada batas di mana orang-orang tidak tahan lagi melihat ada orang yang meluruskan pandangan-pandangan mereka tentang agama.

Dengan keras kepala mereka membela penilaian-penilaian terdahulu tertentu yang mereka pegang atas nama agama. Tidak ada tempat bagi akal kecuali pada segelintir orang saja. Sebaliknya penilaian-penilaian terdahulu tersebar luas di masyarakat. Meski begitu kami akan terus berusaha sampai akhir. Tidak ada alasan untuk betul-betul putus asa.

Agar kajian ini berjalan secara teratur akan dimulai dari penilaian penilaian terdahulu mengenai siapa saja yang menulis kitab suci. Untuk itu akan dimulai dengan orang­orang yang menulis kitab yang lima (Taurat).

Orang-orang hampir semuanya meyakini bahwa yang menulis kitab-kitab itu adalah Musa. Bahkan kaum Farisi membela pendapat ini dengan penuh semangat. Untuk itu mereka menganggap orang yang berkeyakinan selain itu telah kafir. Karena alasan ini Ibnu Ezra, seorang yang berpikir cukup bebas, ilmunya tidak bisa diremehkan dan sepengetahuan kami dialah yang pertama-tama mengetahui kesalahan ini, tidak mengungkapkan pendapatnya secara terus terang, sebaliknya hanya cukup dengan menyinggungnya dengan kata-kata yang samar.

Kalau tidak takut untuk menjelaskannya dan menampakkan kebenaran dengan terang. Inilah kata-kata Ibnu Ezra saat menjelaskan kitab Ulangan,

"Di seberang sungai Yordan... kalau saja kamu mengetahui rahasia dua belas... hukum Taurat dituliskan oleh Musa... waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu... Di atas gunung TUHAN, akan disediakan... ranjangnya adalah ranjang dari besi, saat itu kamu akan mengetahui kebenaran."
Dengan kata-kata yang sedikit ini dia menjelaskan sekaligus membuktikan bahwa Musa bukanlah penulis kitab yang lima, sebaliknya penulisnya adalah orang lain yang hidup jauh setelahnya, sedangkan Nabi Musa sendiri telah menulis kitab lain yang betul-betul berbeda.

Untuk membuktikan pernyataannya itu dia menyebutkan:

1. Musa tidak pernah menulis mukadimah kitab Ulangan karena tidak pernah menyeberangi sungai Yordan.

(Mukadimah kitab Ulangan (1:1): Inilah perkataan-perkataan yang diucapkan Musa kepada seluruh orang Israel di seberang sungai  Yordan. di padang gurun, di Araba-Yordan. di tentangan Suf, antara Paran dengan Tofel, Laban, Hazerot dan Di-Zahab.
Ulangan 31:1-2: Kemudian pergilah Musa, lalu mengatakan segala perkataan ini kepada seluruh orang Israel. Berkatalah ia kepada mereka. "Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun; aku tidak dapat giat lagi, dan TUHAN telah berfirman kepadaku. ‘Sungai Yordan ini tidak akan kau seberangi.’...")


2. Seluruh kitab Nabi Musa as. yang asli dipahatkan dengan sangat jelas di tepi satu mezbah (altar) (Ulangan 27, Yosua 8:32) yang terdiri dari dua belas batu sesuai dengan jumlah imam.

Hal ini berarti bahwa kitab Nabi Musa yang asli jauh lebih kecil daripada lima kitab yang beredar saat ini. Inilah barangkali yang dimaksudkan oleh Ibnu Ezra dalam kata-katanya,
 "kalau saja kamu mengetahui rahasia dua belas"
kecuali jika dia memaksudkan dua belas kutukan yang tersebut dalam fasal sebelumnya dalam kitab Ulangan. Ibnu Ezra barangkali menyangka bahwa pada awalnya semua kutukan itu tidak dimasukkan ke dalam kita hukum. Baru setelah Musa membukukan kitab hukum, dia memerintahkan orang-orang Lewi untuk membacanya demi memaksa rakyat agar bersumpah untuk menerapkan hukum.

Dua belas yang dimaksud oleh Ibnu Ezra itu bisa jadi juga fasal terakhir dari kitab Ulangan yang membahas kematian Musa. Fasal ini terdiri dari dua belas ayat. Namun tidak ada manfaatnya kita terlalu mencurahkan perhatian kepada dugaan-dugaan ini begitu juga dugaan-dugaan yang diciptakan oleh orang lain.

(Ulangan 27:2-8: Dan pada hari kamu menyeberangi sungai Yordan ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN. Allahmu, maka haruslah engkau menegakkan batu-batu besar, dan mengapurnya lalu pada batu itu haruslah kau tuliskan segala perkataan hukum Taurat ini, sesudah engkau menyeberang, supaya engkau masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, seperti yang dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. Dan sesudah kamu menyeberangi sungai Yordan, maka haruslah batu-batu itu, yang telah kuperintahkan kepadamu pada hari ini, kamu tegakkan di gunung Ebal dan kaukapuri. Juga haruslah kaudirikan di sana mezbah bagi TUHAN, Allahmu, suatu mezbah dari batu yang tidak boleh kau olah dengan perkakas besi.
Dari batu yang tidak dipahat haruslah kau dirikan mezbah TUHAN, Allahmu, itu dan di atasnya haruslah kau persembahkan korban bakaran kepada TUHAN, Allahmu. Juga haruslah engkau mempersembahkan korban keselamatan, memakannya di sana dan bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu. Selanjutnya haruslah engkau menuliskan pada batu-batu itu segala perkataan hukum Taurat ini dengan jelas dan terang.

Yosua 8:32: Dan di sanalah di atas batu-batu itu, dituliskan Yosua salinan hukum Musa, yang dituliskannya di depan orang Israel.)



3. Seperti kita tahu, Ibnu Ezra juga menyebutkan bahwa dalam kitab Ulangan ada ayat yang mengatakan, "hukum taurat dituliskan oleh Musa" (12:9-10).
Mustahil kiranya, kalimat ini ditulis oleh Musa as. sendiri. Kata-kata ini pasti ditulis oleh orang lain yang menceritakan sabda-sabda dan pekerjaan­ pekerjaan Musa.


4. Ibnu Ezra menyebutkan ayat dari Kitab Kejadian (12 : 1) yang menceritakan perjalanan Nabi Ibrahim as. di negeri Kanaan lalu menyebutkan komentar penutur yang berbunyi,
"waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu..." (Kejadian 12 : 6).
Komentar ini menunjukkan dengan jelas bahwa kondisi ketika kitab itu ditulis sudah berubah, yakni orang Kanaan sudah tidak berada di negeri itu lagi. Kata-kata ini pasti ditulis setelah kematian Musa dan setelah orang­ orang Kanaan diusir dan tidak menduduki daerah ­daerah itu lagi.
Maksud ini diisyaratkan oleh Ibnu Ezra dengan mengatakan,
"waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu..."
 Tapi bisa jadi sang penutur memaksudkan bahwa Kanaan cucu Nuh menguasai negeri ini, setelah sebelumnya dikuasai oleh orang lain. Jika tidak, maka di sana ada rahasia yang tidak boleh diungkapkan oleh orang yang mengetahuinya. Maksudnya, jika Kanaan cucu Nuh menguasai belahan bumi itu, dan sang penutur ingin menjelaskan keadaannya tidak seperti itu ketika dikuasai oleh bangsa lain. Adapun, jika ternyata Kanaan adalah orang yang pertama-tama bertani di daerah-daerah itu (seperti disebutkan dalam fasal 10 dari kitab Kejadian maka maksud penutur adalah bahwa keadaannya sudah tidak begitu lagi saat menulis.
Dengan demikian penulis kitab itu bukanlah Musa. Pada masanya orang-orang Kanaan masih menduduki tanah itu. Inilah rahasia yang disembunyikan oleh Ibnu Ezra.

(Kejadian 10:15-19: Kanaan memperanakkan Sidon, anak sulungnya, dan Het, serta ... kemudian berseraklah kaum-kaum orang Kanaan itu. Batas-batas daerah orang Kanaan adalah dari Sidon, jika kamu pergi ke arah Gerar sampai ke Gaza, jika kamu pergi ke arah Sodom, Gomorah, Adma dan Zeboim sampai ke Lusa.)

5. Dalam kitab Kejadian (22:14) disebutkan bahwa gunung Moria dinamai dengan gunung TUHAN. Padahal nama itu baru dipakai setelah pembangunan kuil dimulai, yaitu jauh setelah zaman Musa. Bahkan Musa tidak pernah menunjukkan tempat yang dipilih oleh TUHAN, dia hanya meramalkan bahwa TUHAN akan memilih suatu tempat yang memakai nama TUHAN.

(Kejadian 22:14: Dan Abraham menamai tempat itu, "TUHAN terlihat": sebab itu sampai sekarang dikatakan orang, "Di atas gunung TUHAN, terlihat "

Penutur kitab sucilah yang menamakan gunung ini bukan Ibrahim. Dia mengatakan, "Tempat yang sekarang dinamai `Di atas gunung TUHAN, akan diwahyukan', dulu Ibrahim menamainya `TUHAN akan terlihat'." (Sp))

6. Terakhir, dia menyebutkan bahwa dalam kitab Ulangan ada kata-kata yang ditambahkan oleh penulisnya ke dalam kisah Og raja Basan.
"Hanya Og, raja Basan, yanq tinggal hidup dari sisa-sisa orang Refaim. Sesungguhnya, ranjangnya adalah ranjang dari besi, bukankah itu masih ada di kota Raba bani Amon? Sembilan hasta panjangnya dan empat hasta lebarnya, menurut hasta biasa. " (Ulangan 3 : 11).

Tambahan ini menunjukkan bahwa penulisnya hidup jauh setelah Nabi Musa as. wafat. Gayanya dalam bercerita adalah gaya seorang penulis yang menceritakan kisah-kisah kuno sekali. Untuk meyakinkan kebenaran kisahnya itu dia menyebutkan peninggalan-peninggalan yang masih ada hingga saat kisah itu diceritakan.

Di samping itu, tidak diragukan lagi bahwa ranjang dari besi itu baru ditemukan pada masa Nabi Daud as. yang menguasai kota Raba itu (II Samuel 12 : 30). Selanjutnya, tambahan ini juga bukan satu-satunya.

Tidak lama kemudian, sang penutur menambahkan ke dalam kata-kata Musa penjelasan berikut ini: “ Yair anak Manasye, mengambil seluruh wilayah Argob sampai daerah orang Gesur dan orang Maakha, dan menamai daerah itu, menurut namanya sendiri, sebabagaimana juga menamainya dengan Basan, sampai sekarang di sana masih ada beberapa desa yang bernama Yair. "

Penulis katakan, si penutur kitab suci menambahkan kata-kata ini untuk menjelaskan kata-kata Musa yang tersebut sebelumnya. Yaitu:

"Dan yang masih tinggal dari Gilead beserta seluruh Basan, kerajaan Og, yakni seluruh wilayah Argob, aku berikan kepada suku Manasye yang setengah itu. Seluruh Basan ini disebut negeri orang Refaim."

Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Ibrani yang sezaman dengan penulis kitab ini mengetahui negeri Yair yang berafiliasi ke kabilah Yehuda. Tetapi mereka tidak tahu bahwa negeri itu pernah dikuasai oleh Argob dan bahwasanya dia adalah tanah Refaim. Oleh karena itu penulis terpaksa menjelaskan negeri yang dulu dinamai dengan nama itu. Di waktu yang sama dia juga harus menjelaskan mengapa pada waktu itu oleh penduduknya dinamai Yair padahal mereka berafiliasi ke kabilah Yehuda bukan Manasye (lihat I Tawarikh 2:21-22)

(Kata Ibrani refaim berarti orang-orang yang dijatatuhi hukuman, tetapi sepertinya merupakan nama diri yang tersebut dalam kitab I Tawarikh (fasal 20) sedang menurut kami nama itu adalah : marga. (Sp).)

(I Tawarikh 2:21-22: Sesudah itu Hezron menghampiri anak perempuan Makhir, bapa Gilead. Ia mengawini perempuan itu ketika ia berumur enam puluh tahun. Perempuan itu melahirkan Segub baginya. Segub memperanakkan Yair yang mempunyai dua puluh tiga kota di tanah Gilead.)



Demikianlah, kita telah menjelaskan pendapat Ibnu Ezra, juga ayat-ayat dari lima kitab yang dia sebutkan untuk menguatkan pendapatnya ini. Tetapi rupanya dia lupa menyebutkan hal yang lebih penting. Masih ada beberapa catatan lain yang lebih penting yang bisa diberikan kepada lima kitab itu. Misalnya:

Kitab suci tidak hanya menceritakan Musa dengan kata ganti orang ketiga, tetapi lebih dari itu dia memberikan banyak kesaksian mengenai dirinya, seperti: "TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka" (Keluaran 33:11),
"Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi" (Bilangan 12:3),
 "Maka gusarlah Musa kepada para pemimpin tentara itu" (Bilangan 31:14),
"Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN" (Ulangan 34:5).

Lain halnya dengan gaya penuturan di kitab Ulangan yang memuat hukum yang diterangkan oleh Musa kepada rakyat dan sebelumnya dia tulis sendiri. Musa menggunakan gata ganti orang pertama ketika menceritakan hal-hal yang dia lakukan. Misalnya dia mengatakan,
"...seperti yang difirmankan TUHAN kepadaku." (Ulangan 2:1).
"...aku mohon kasih karunia dari pada TUHAN..." (Ulangan 3:23).

Kecuali di bagian akhir dari kitab ini. Setelah menyampaikan kata-kata Musa, menceritakan bagaimana dia menyampaikan hukum syariat yang telah dia jelaskan secara tertulis kepada rakyat kemudian memberi peringatan terakhir dan tidak lama kemudian mati, sang penulis kitab ini masih belum berhenti. Semua itu, yakni cara berbicara, kesaksian­kesaksian dan seluruh kumpulan kisah itu mengundang keyakinan bahwa Musa tidak pernah menulis kitab-kitab ini. Yang menulisnya adalah orang lain.

Harus kita sebutkan juga bahwa penuturan ini tidak hanya menceritakan kematian Musa, penguburannya dan berkabung selama tiga puluh hari saja tetapi juga menuturkan keunggulan Nabi Musa as. jika dibandingkan dengan nabi-nabi Yahudi lain yang datang setelahnya.
"Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang banqkit di antara orang Israel..."(Ulangan 34 : 10)

Tentu saja kesaksian ini tidak mungkin diberikan oleh Nabi Musa as. sendiri atau bahkan oleh orang yang datang langsung setelahnya. Kesaksian seperti ini selayaknya datang dari orang yang hidup berabad-abad setelah beliau dan telah membaca kisah nabi­ nabi Bani Israel yang diungguli oleh Nabi Musa itu.

Bahkan penutur kisah itu menggunakan ungkapan yang sangat jelas, yaitu:
 "...tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel" (Ulangan 34:10).
Sedang mengenai kuburannya, "...dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini"(Ulangan 34:6).

Nama sebagian tempat yang tersebut dalam kitab Taurat belum dipakai pada masa Nabi Musa as. tetapi baru digunakan jauh setelah itu. Misalnya kisah Nabi Ibrahim as. yang mengejar musuh-musuhnya hingga kota Dan (Kejadian 14 : 14).

(Kejadian 14:14: Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan.)

Nama ini baru dipakai jauh setelah kematian Yosua bin Nun, pembantu dan khalifah Nabi Musa as. Sedang nama aslinya adalah Lais (Hakim-hakim 18 : 29).

(Hakim-hakim 18:29: Mereka menamai kota itu L menurut nama bapa leluhur mereka, yakni Dan, yang lahir bagi Israr1 tetapi nama kota itu dahulu adalah Lais.)


Kisah yang dituturkan dalam Taurat terkadang terus berlanjut hingga setelah kematian Nabi Musa as. Misalnya dalam kitab Keluaran disebutkan bahwa orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan (Keluaran 16:35).

(Keluaran 16:35: Orang Israel makan manna empat puh: tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami oran g mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan.)

Padahal masa ini adalah masa yang dituturkan oleh kitab Yosua (Yosua 5 : 12).

(Yosua 5:12: Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinva setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.)

Kitab Kejadian juga menuturkan, "Inilah raja-raja yang memerintah di tanah Edom, sebelum ada seorang raja memerintah atas oranq Israel" (Kejadian 36 : 31). Tidak diragukan lagi bahwa penutur kisah ini berbicara tentang raja-raja yang memerintah orang-orang Edom  sebelum ditaklukkan oleh Nabi Daud as. (II Samuel 8 : 14).

(Orang-orang Edom tidak mempunyai raja sejak waktu i' hingga pemerintahan Yoram yang pada masanya mereka memberont., (II Raja-Raja 8:20). Selama itu mereka diperintah oleh pengua,

militer yang diangkat oleh orang Yahudi (i Raja-Raja 22:48 Selaqjulnya penguasa Edom itu disebut raja (II Raja-Raja : 3:9)

Sekarang kita bertanya-tanya apakah raja terakhir Edom itu memulai masa pemerintahannya sebelum Saul naik takhta ataukah fasal dalam kitab Kejadian ini hanya ingin menyebutkan raja-raja Edom yang meninggal tanpa pernah dikalahkan. Masalah ini bisa didiskusikan, tetapi sulit rasanya untuk memasukkan Musa ke dalam daftar raja-raja orang Ibrani, sedang dia adalah orang yang mendirikan negara yang hanya tunduk kepada Allah dan sangat bertolak belakang dengan kerajaan. (Sp))


(II Samuel 8:14: Lalu ia menempatkan pasukan-pasukan pendudukan di Esdom: di seluruh Edom ditempatkannya pasukan­ pasukan pendudukan, sehingga seluruh Edom diperbudak oleh Daud. TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.)


Dari semua catatan ini terlihat jelas, sejelas siang, bahwa Musa tidak pernah menulis lima kitab itu. Sebaliknya, kitab-kitab itu ditulis oleh orang yang hidup berabad-abad setelahnya. Namun demikian, jika mau, silakan cari dengan lebih teliti kitab-kitab yang ditulis oleh Musa sendiri dalam lima kitab itu.

Pertama-pertama, dalam Keluaran (17:14)  diceritakan dengan pasti bahwa Musa menulis sesuatu tentang perang melawan  Amalek atas perintah Allah, tetapi tidak disebutkan kitab apa yang ia tulis itu. Namun, dalam kitab Bilangan (21:14)disebutkan adanya suatu kitab yang bernama Peperanqan Tuhan yang sudah barang tentu memuat perang melawan Amalek dan seluruh proses pembuatan kemah yang menurut kesaksian penulis lima kitab di dalam kitab Bilangan (33:2) bahwa Musa telah menyampaikannya secara tertulis.


(Keluaran 17:14: Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit. ")

(Bilangan 21:14: Itulah sebabnya dikatakan dalam kitab peperangan TUHAN:...)

(Bilangan 33:2: Musa menuliskan perjalanan mereka dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan sesuai dengan titah TUHAN: dan inilah tempat-tempat persinggahan mereka dalam perjalanan mereka)



Lanjutan


Selain itu, dalam kitab Keluaran (24:7) juga disebutkan adanya kitab lain yang bernama Kitab Perjanjian yang dibaca oleh Musa di hadapan orang Israel saat mengikat janji dengan Allah.

Kitab atau piagam ini tentunya singkat. Hanya berisi hukum-hukum Allah dan pesan-pesan-Nya yang tersebut dalam kitab Keluaran fasal 20 ayat 22 sampai dengan fasal 24. Hal ini tidak bisa dipungkiri oleh orang yang membaca fasal tersebut dengan teliti dan tanpa memihak. Di dalamnya disebutkan bahwa setelah mengetahui pendapat kaumnya mengenai perjanjian yang mereka ikat dengan Allah itu, Musa langsung menulis firman-firman dan pesan-pesan-Nya.

Dan setelah dilakukan ritual peribadatan pagi hari berikutnya, dia membacakan syarat-syarat perjanjian itu di depan umum. Setelah dibacakan, kaumnya pun bergabung ke dalam perjanjian itu dengan suka rela karena telah memahami syarat-syaratnya. Melihat sempitnya waktu yang dipakai untuk menulis perjanjian yang disepakati itu, juga tabiat perjanjian itu sendiri, dapat dipastikan bahwa isi kitab itu tidak lebih daripada kata-kata yang baru saja diucapkan.

Terakhir, telah tetap juga bahwa Musa pernah menjelaskan semua hukum yang dia buat pada tahun empat puluh setelah keluar dari Mesir (lihat Ulangan 1:5)  kemudian mengikat janji baru dengan kaumnya agar tetap mematuhi hukum-hukum itu (lihat Ulangan 29:14) dan akhirnya menulis sebuah kitab yang memuat hukum-hukum baru yang menjelaskan perjanjian baru itu (lihat Ulangan 31:9).

Kitab ini dinamai dengan kitab Taurat Allah (Hukum TUHAN). Setelah selang waktu yang cukup panjang, Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu - berarti ini adalah perjanjian ketiga- kemudian menuliskan semuanya itu dalam Taurat Allah ini (lihat Yosua 24:25­26).
Selanjutnya, karena tidak ada suatu kitab yang memuat perjanjian Musa dan perjanjian Yosua sekaligus, kita harus mengakui bahwa kitab itu telah hilang. Jika tidak, marilah kita mengigau seperti Yonatan, si penafsir dari Kaldea yang menakwilkan ayat-ayat kitab suci menurut hawa nafsunya itu.

Saat menemui kesulitan, penerjemah ini lebih memilih untuk mengubah isi kitab suci daripada mengakui kebodohannya. Suatu ketika dia pernah menerjemahkan ayat dari kitab Yosua (Yosua 24:26) yang berarti:
"Yosua menuliskan perkataan ini dalam kitab Taurat Allah." dengan, "Yosua menuliskan perkataan ini dan menyimpannya bersamaan dengan kitab Taurat Allah."

Apa yang bisa kita perbuat terhadap orang-orang yang tidak melihat kecuali yang sesuai dengan hawa nafsu saja?
Kami bertanya-tanya, "Bukankah hal ini termasuk pengingkaran terhadap kitab itu sendiri dan sekaligus mengarang kitab baru?"
Terlepas dari itu semua, kita bisa menyimpulkan bahwa kitab Taurat Allah yang ditulis oleh Musa itu tidak termasuk dalam lima kitab, tetapi sebuah kitab yang berbeda sama sekali.

Oleh penulis lima kitab disisipkan ke dalamnya pada tempat yang menurutnya tepat. Hal itu tampak jelas dari keterangan terdahulu dan yang tersebut kemudian. Kami ingin mengatakan bahwa pada waktu ayat dari kitab Ulangan yang tersebut di atas memberitahukan kepada kita bahwa Musa menulis kitab Taurat, si penulis menambahkan bahwa Musa memberikannya kepada imam-imam lalu meminta mereka untuk membacanya di depan umum pada waktu-waktu tertentu. Ini berarti bahwa kitab Taurat Allah itu jauh lebih kecil daripada lima kitab. Bisa habis dibaca pada satu pertemuan umum dan bisa diapahami oleh semua orang.


Nb:
(Keluaran 24:7: Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata. "Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan dengarkan.")

(Ulangan 1:3: Pada tanggal satu bulan sebelas tahun keempat puluh berbicaralah Musa kepada orang Israel sesuai dengan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya demi mereka)

( Ulangan 1:5: Di seberang sungai Yodan, di tanah Moab, mulailah Musa menguraikan hukum Taurat ini, katanya)

 (Ulangan 29:14: Bukan hanya dengan kamu saja aku mengikat perjanjian dan .sumpah janji ini)

(Ulangan 31:9: Setelah hukum Taurat itu dituliskan Musa, maka diberikannyalah kepada imam-imam bani Lewi, yang mengangkut tabut perjanjian TUHAN, dan kepada segala tua-tua Israel.)

( Yosua 24:25-26: Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem. Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah...)


Setelah itu semua, kita tidak lupa untuk mengatakan bahwa secara agama Musa hanya memerintahkan untuk menyimpan satu kitab saja, yaitu kitab Perjanjian Kedua dan nyanyian yang dia tulis setelah itu untuk mengajari seluruh anggota umat.

(Ulangan 31:19: Oleh sebab itu tuliskanlah nyanyian ini dan ajarkanlah kepada orang Israel, letakkanlah di dalam mulut mereka, supaya nyanyian ini rnenjadi saksi bagi-Ku terhadap orang Israel.)

Adapun perjanjin pertama, para hadirin sajalah yang harus mematuhinya. Berbeda dengan perjanjian kedua yang harus dipatuhi oleh generasi yang datang kemudian (Ulangan 29:14-15)

(Ulangan 2y:14-15: Bukan hanya dengan kamu saja aku mengikat perjanjian dan sumpah janji ini, tetapi dengan setiap orang yang ada di sini pada hari ini bersama-sama dengan kita, yang berdiri di hadapan TUHAN, Allah kita, dan juga dengan setiap orang yang tidak ada di sini pada hari ini bersama-sama dengan kita.)


Oleh karena itu, dia memerintahkan untuk menjaganya. Demikian juga dengan nyanyian yang dikhususkan untuk generasi-generasi mendatang. Selanjutnya, karena tidak ada bukti kuat bahwa Musa pernah menulis selain kitab-kitab ini, juga tidak pernah memerintahkan untuk menyimpan sesuatu untuk generasi mendatang kecuali Taurat kecil dan nyanyian ini, dan sementara itu, dalam kitab yang lima ada banyak teks yang tidak mungkin ditutis oleh Musa, maka tidak akan ada orang yang bisa menyatakan dengan pasti, bahwa Musa adalah penulis kitab yang lima itu. Sebaliknya, akal akan membuktikan kesalahannya.

Sampai di sini barangkali ada orang bertanya kepadaku,
"Tidak mungkinkah, selain dua teks itu, Musa menulis hukum-hukum yang diberikan kepadanya pada pewahyuan pertama?"
 "Apakah selama empat puluh tahun itu, Musa tidak pernah menulis hukum-hukum lain, selain sedikit kata yang terkandung dalam Kitab Perjanjian pertama?"

Kami akan menjawab dengan mengatakan,
"Meskipun kita menerima bahwa seolah masuk akal jika Musa menulis hukum-hukum di waktu dan tempat yang sama dengan penerimaan wahyu itu, kami tetap menolak karena alasan berikut ini. Di atas telah kita jelaskan bahwa dalam kasus-kasus seperti ini, kita tidak boleh menerima selain yang dibuktikan oleh kitab suci itu sendiri atau yang disimpulkan dari dasar-dasar yang melandasinya. Hanya sejalan dengan akal secara lahir tidak boleh dijadikan dalil. Selain itu, akal juga tidak memaksa kita untuk menerimanya. Hanya sebatas mungkin, bahwa majlis Musa menyerahkan kepada bangsa Israel catatan hukum-hukum yang sebelumnya telah dia tetapkan, lalu dikumpulkan oleh penutur pada masa berikutnya kemudian diselipkan pada tempat yang sesuai dalam biografi Musa."

 Sampai di sini telah selesai pembahasan kita mengenai kitab-kitab Musa yang lima. Sekarang kita akan meneliti kitab-kitab lain.

Dengan alasan-alasan yang hampir sama kita juga membuktikan bahwa Kitab Yosua tidak ditulis sendiri oleh Yosua, tetapi ditulis oleh orang lain yang menyaksikan bahwa ketenaran Yosua menyebar di seluruh penjuru bumi (lihat 6:27)
(Yosua 6:27 Dan TUHAN menyertai Yosua dan terdengarlah kabar tentang dia di seluruh negeri itu.)


tidak pernah melupakan sesuatu yang dipesankan oleh Musa (lihat ayat terakhir dari fasal 8 dar ayat 15 dari fasal 9) dan setelah lanjut usia mengundang  semua orang untuk menghadiri pertemuan kemudian mati di sana. Selain itu, kejadian-kejadian yang dituturkan juga berlanjut hingga setelah kematiannya.

Misalnya, diceritakan dengan jelas  bahwa orang orang Israel tetap mengagungkan Allah selama orang­orang tua yang pernah bertemu Yosua masih hidup.

Sedang dalam dalam fasal 16 ayat 10 disebutkan bahwa mereka (suku Efraim dan Manasye) tidak mengusir orang-orang Kanaan yang tinggal di Gezer.

Kemudian tambahnya: Jadi orang Kanaan itu masih tetap tinggal di tengah-tengah suku Efraim sampai hari ini (sekarang), tetapi menjadi budak rodi.

 Kisah ini juga disebutkan dalam kitab Hakim-Hakim (fasal satu). Cara penuturan dengan menggunakan ungkapan sampai hari ini ini menunjukkan bahwa orang yang menulisnya bercerita mengenai sesuatu yang sudah berlalu sangat lama. Selanjutnya, ayat ini juga sangat mirip dengan ayat terakhir dari fasal 15 tentang kisah bani Yehuda dan kisah Kaleb. pada ayat 14 dan setelahnya dar fasal yang sama.

Ada kisah lain lagi dalam fasal 22 ayat 10 dan seterusnya mengenai dua setengah suku yang mendirikan mezbah di tepi sungai Yordan. Kejadian ini tampaknya juga terjadi setelah kematian Yosua. Nama Yosua tidak pernah disebut sama sekali.

Orang-orang Israel sendirilah yang bermusyawarah mengenai urusan perang, kemudian mengirim para utusan, menunggu jawaban dari pihak musuh dan akhirnya mengeluarkan keputusan.

Selanjutnya, terlihat jelas dalam fasal 10 ayat 14 bahwa kitab ini ditulis berabad-abad setelah kematian Yosua. Fasal itu memberikan kesaksian seperti berikut ini:
Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian.

Akhirnya, jika Yosua memang pernah menulis sebuah kitab maka kitab itu adalah kitab yang tersebut dalam kisah itu juga tetapi dalam fasal 10 ayat 13.32)

Adapun kitab Hakim-Hakim, kami kira tidak ada orang normal yang mengira telah ditulis oleh para hakim sendiri. Hal ini karena seluruh penutup kisah, yaitu fasal 21 menyebutkan dengan sangat jelas bahwa satu penutur sajalah yang menulisnya. Dari sisi lain, karena penyusunnya berkali-kali mengatakan bahwa pada zamannya tidak ada satu raja pun dari kalangan Bani Israel, tidak diragukan lagi bahwa kitab ini ditulis sebelum para raja naik takhta.

Mengenai kitab Samuel tidak ada sebuah alasan pun yang membuat kita memperhatikannya terlalu lama. Kisah yang tersebut di dalam kitab ini terus berlanjut lama sekali setelah kematiannya. Namun demikian, kami ingin menjelaskan bahwa kitab ini pasti ditulis berabad-abad setelah Samuel meninggal.

Dalam kitab pertama fasal 9 ayat 9, si penutur menyampaikan peringatan dalam anak kalimat berikut ini:
Dahulu di antara orang Israel apabila seseorang pergi menanyakan petunjuk Allah, ia berkata begini: "Mari kita pergi kepada pelihat”, sebab nabi yang sekarang ini disebutkan dahulu pelihat.

Adapun, kitab-kitab Raja-Raja, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab ini juga, dinukil dari buku­ buku riwayat Salomo (lihat I Raja-Raja 11:41), juga dari kitab sejarah raja-raja Yehuda (lihat I Raja-Raja 14:19), dan kitab sejarah raja-raja Israel (lihat I Raja-Raja 14:29).

Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa semua kitab yang kita bahas hingga kini tidak ditulis oleh orang-orang yang nama mereka dipakai untuk menamakan kitab-kitab itu. Juga bisa menyimpulkan bahwa kisah-kisah yang dikandungnya menuturkan kejadian-kejadian masa lalu.

Sekarang, jika kita melihat urutan dan kandungan semua kitab ini, kita akan tahu dengan mudah bahwa penulisnya adalah satu orang penutur. Dia ingin menceritakan sejarah umat Yahudi kuno dari asal mulanya hingga penghancuran kota Yerusalem yang pertama kali.

Sebetulnya, urutan ini saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa kitab-kitab itu ditulis oleh satu orang penutur. Umpamanya, selesai menceritakan kisah Musa, dia langsung berpindah ke kisah Yosua dengan menggunakan kalimat berikut:
Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:....

Demikian juga selesai menceritakan kematian Yosua. Saat itu, dia langsung berpindah dengan cara yang sama ke sejarah para hakim, seperti berikut:
Sesudah Yosua mati, oranq Israel bertanya kepada TUHAN....

Setelah itu dia melampirkan kitab Rut sebagai pelengkap kitab Hakim-Hakim dengan kalimat berikut ini:
Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel

Selanjutnya, dengan cara yang sama juga menghubungkan kitab Samuel pertama dengan kitab Rut. Dari kitab pertama ini juga berpindah ke kitab kedua dengan cara yang sama. Jadi, seluruh teks dan urutan kisah-kisah itu menunjukkan bahwa penulisnya adalah satu orang yang mempunyai tujuan tertentu.

Memulai dengan kisah kejadian pertama umat Ibrani, kemudian menceritakan kepada kita, secara berurutan dalam momen apa dan kapan, Musa menegakkan hukum hukum dan menyampaikan banyak nubuatnya kepada umat Ibrani.

Setelah itu, dia menceritakan kepada kita bagaimana umat Ibrani menguasai tanah yang dijanjikan sebagaimana diramalkan oleh Musa (lihat Ulangan fasal 7), lalu bagaimana mereka meninggalkan syariat setelah menguasai tanah itu (Ulangan 31:16),petaka-petaka apa saja yang timbul karena ditinggalkannya syariat (lihat fasal yang sama: 17), bagaimana mereka ingin memilih raja raja (Ulangan 17:14), bagaimana mereka maju atau mundur sesuai dengan kadar ketaatan dan pembangkangan mereka terhadap syariat (Ulangan 28:33 dan ayat terakhir), dan terakhir ditutup dengan keruntuhan negara seperti pernah diramalkan oleh Musa.

Masalah-masalah lain yang tidak bisa digunakan untuk mendukung syariat, biasanya si penutur akan mengabaikannya sama sekali atau mengalihkan pembaca kepada para penutur lain. Jadi, semua kitab ini mempunyai satu tujuan, yaitu mengajarkan syariat yang didiktekan oleh Musa, kemudian mendukung kebenarannya dengan menuturkan banyak peristiwa.


Lanjutan


Selanjutnya, jika kita memperhatikan tiga ciri ini berikut ini, yaitu: kesatuan tujuan dalam semua kitab, cara mempertalikan satu sama lain dan waktu penulisannya yang berabad-abad setelah peristiwa-peristiwa yang dituturkan, kita bisa menarik kesimpulan -seperti telah kita sebutkan tadi- bahwa satu penutur sajalah yang menulisnya. Adapun siapa penutur itu, kami tidak bisa menentukannya secara pasti. Meski begitu, kami menduga bahwa dia itu adalah Ezra.

Dugaan kami ini berdasar pada alasan-alasan yang cukup masuk akal. Hal itu, karena si penutur memaparkan  seluruh kisahnya (tadi sudah kita jelaskan bahwa seluruh kitab yang kita bahas hingga kini adalah satu kisah) hinggga pembebasan Yoyakhin kemudian menambahkan bahwa setelah itu, dia terus duduk di meja makan raja selama hidupnya.  

Dengan demikian, dia tidak mungkin hidup sebelum Ezra. Sementara itu, kitab suci tidak menyebutka seseorang yang berjaya pada masa itu kecuali Ezra (Ezra 7:10).

Dengan tekun dan penuh semangat dia mempelajari hukum Allah lalu menyampaikannya. Dia juga seorang penulis yang betul-betul menguasai syariat Musa. Dari sini kita tidak mendapatkan seseorang yang bisa diduga telah menulis kitab-kitab itu kecuali Ezra. Dari sisi lain, kitab Ezra memberikan kesaksian bahwa Ezra tidak hanya tekun dan semangat dalam mempelajari syariat Allah saja, tetapi juga tekun menyampaikannya.

Kemudian, Nehemia (8:8) juga menyebutkan:
"Mereka membaca bagian-bagian dari kitab Taurat Allah dengan jelas, dengan diberi keterangan­ keterangan, sehingga mereka mengerti bacaan itu."

Perlu diingat bahwa kitab Ulangan tidak hanya memuat Taurat Allah saja, meskipun Taurat menempati bagian terbesar dari kitab itu. Sebaliknya juga memuat banyak penjelasan yang disisipkan ke dalamnya.

Oleh karena itu, kami menduga bahwa kitab Ulangan inilah Taurat Allah yang ditulis oleh Ezra kemudian dia tambahi dengan pemaparan dan penjelasan yang dibaca oleh orang-orang yang diceritakan oleh Nehemia itu. Demikianlah, kita telah menjelaskan dengan dua contoh bahwa di sana ada banyak penjelasan yang dimasukkan di sela-sela kitab Ulangan.

Bisa disebutkan contoh lain, misalnya seperti yang tersebut dalam fasal 2 ayat 12:
"Dan dahulu di Seir diam orang Hori, tetapi bani Esau telah menduduki daerah mereka, memunahkan mereka dari hadapannya, lalu menetap di sana menggantikan mereka, seperti yang dilakukan orang Israel dengan negeri miliknya yang diberikan TUHAN kepada mereka."

Ayat ini adalah penjelasan dari ayat 3 dan 4 dalam fasal yang sama. Seperti kita lihat, ayat itu menjelaskan bahwa bani Esau itu bukan orang pertama yang menduduki gunung Seir yang kemudian menjadi milik mereka. Sebaliknya, daerah itu mereka rebut dari penduduknya yang pertama, yaitu orang Hori. Mereka mengusir dan menghancurkan orang Hori seperti orang Israel yang mengusir dan menghancurkan orang Kanaan setelah Musa wafat.

Demikian juga dengan ayat 6, 7, 8 dan 9 dari fasal 10 yang telah disisipkan ke dalam kitab Taurat Musa. Demikianlah, setiap orang harus mengetahui bahwa ayat 8 yang dimulai dengan ungkapan:
"Pada waktu itu TUHAN menunjuk suku Lewi"
itu kaitannya adalah dengan ayat 5,  bukan dengan kematian Harun. Alasan satu-satunya yang membuat Ezra menceritakan kematian ini adalah kata-kata Musa dalam kisah sapi emas yang disembah oleh bani Israel (lihat 9:20) bahwa dirinya berdoa kepada Allah untuk Harun.

Setelah itu, Ezra menjelaskan bahwa Allah memilih suku Lewi untuk mengangkut tabut perjanjian Tuhan pada waktu Musa berbicara tentang hal ini, agar jelas sebab pemilihan itu dan kenapa mereka tidak mendapatkan bagian harta warisan. Dengan berakhirnya ayat ini, Ezra kembali kepada topik utama dengan menuturkan kata-kata Musa lagi.

Selain tambahan-tambahan ini, masih ada mukadimah kitab dan semua teks yang menceritakan Musa dengan menggunakan kata ganti orang ketiga. Ini semua belum termasuk sejumlah besar tambahan dan perubahan dalam teks yang tidak bisa kita ketahui. Tapi yang jelas, semua tambahan itu dilakukan untuk memudahkan orang ­orang yang hidup pada zaman itu dalam memahami masalah.

Menurut hemat kami, jika kita mempunyai kitab Musa, kita akan mendapatkan perbedaan besar, baik dalam menuturkan perintah-perintah maupun dalam urutan dan pembuktiannya. Kenyataannya, ketika kami membandingkan sepuluh firman yang ada dalam Ulangan dan sepuluh firman yang ada dalam Keluaran di mana kisahnya dituturkan secara terus terang, kami mendapatkan banyak perbedaan dari segala sisi.

Perintah keempat misalnya disusun dalam struktur kalimat yang sangat berbeda. Bukan ini saja, tetapi redaksinya pun juga jauh lebih panjang. Sebab yang ada di sini juga berbeda sama sekali dengan sebab yang tersebut dalam kitab Keluaran. Oleh karena itu, kami menyangka, seperti telah kami katakan sebelum ini, Ezralah yang melakukan semua perubahan di sana-sini karena ingin menerangkan Taurat Allah kepada orang-orang yang hidup sezaman dengannya.

Dengan demikian, kitab ini adalah kitab Taurat Allah seperti dijelaskan dan disampaikan oleh Ezra. Kami bahkan menduga bahwa kitab inilah yang mula-mula dia tulis. Dugaan ini berlandaskan pada prinsip bahwa kitab ini memuat undang-undang yang dibutuhkan oleh bangsa Israel dan tidak berkaitan dengan kitab sebelumnya sebagaimana yang terjadi pada kitab-kitab lain. Sebaliknya langsung dibuka dengan menyebutkan: Inilah perkataan perkataan yang diucapkan Musa....

Setelah menyelesaikan kitab ini dan mengajar syariat kepada bangsa Israel, kami kira dia baru mulai menuturkan sejarah umat Ibrani sejak penciptaan alam semesta hingga penghancuran besar terhadap kota Yerusalem. Selanjutnya, kitab Ulangan tersebut dimasukkan ke dalam sejarah itu pada tempatnya.

Bisa jadi juga bahwa alasan penamaan kitab lima dengan kitab Musa karena secara garis besar membahas kehidupannya. Jadi dinamai dengan nama tokoh utama Karena alasan ini juga, kitab keenam dinamai Yosua, kita ketujuh dinamai Hakim-Hakim, kedelapan dinamai Rut kesembilan dan barangkali juga kesepuluh dinamai Samuel kesebelas dan keduabelas dinamai Raja-Raja.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar